Hai Hearoes! Pernah gak sih kalian merasa terlalu sibuk hingga kewalahan dengan jadwal yang kalian miliki? Pernahkah kalian berada di depan layar laptop satu harian penuh untuk belajar atau mengerjakan sesuatu hal yang menurut kalian “produktif” dan mengesampingkan kebutuhan makan, minum, tidur, bahkan ke kamar mandi? Jika kamu pernah mengalami hal-hal tersebut, bisa jadi secara gak sadar kamu telah melakukan toxic productivity. 

Hah produktif kok dibilang toxic? Emang bisa gitu? Oke mari kita bahas lebih lanjut. Menurut Dr. Julie Smith – seorang psikolog klinis dari Hampshire, Inggris, toxic productivity adalah sebuah obsesi untuk mengembangkan diri dan merasa selalu bersalah jika tidak bisa melakukan banyak hal. Lantas, mengapa kok bisa sih muncul toxic productivity? Toxic productivity lahir dari sebuah kebiasaan kita yang menilai tinggi suatu produktivitas. Kita sering kali takjub dengan orang-orang sekitar yang memiliki berbagai macam aktivitas dalam keseharian mereka. Kita juga sering memuji seseorang yang mampu untuk begadang setiap malam demi mengerjakan tugas-tugas atau kerjaan mereka. Tentu saja dengan hal ini, mendorong kita akan memiliki keinginan untuk bisa menjadi seperti mereka. Yap jadinya kita juga pengen dong dibilang produktif sama orang-orang.

Source: Dr. Julie Smith (psikolog). BBC. “What Is Toxic Productivity?”.

Well, that’s not wrong Hearoes! Tapi sebenarnya produktivitas itu akan menjadi sesuatu yang baik apabila kita tahu batasan bagi diri kita. Namun, hal ini akan menjadi berbahaya apabila produktivitas itu malah mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti kebutuhan makan, minum, bersosialisasi, dan lain-lain. Produktivitas itu juga akan menjadi toxic apabila muncul perasaan bersalah ketika kita rehat sejenak dari kesibukan atau sekedar melakukan hobi dimana kita menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak produktif. Padahal sebenarnya tolak ukur produktivitas seseorang itu bukan dilihat dari seberapa sibuk orang tersebut loh Hearoes! Hanya dengan kamu bangun pagi, kemudian mandi dan lanjut melakukan kegiatan sehari-hari itu sudah bisa dibilang produktif kok. Bukan malah yang kerja terus tanpa istirahat yaa! Justru tubuh kita butuh istirahat untuk mencharge energi, biar bisa melanjutkan aktivitas yang lainnya. 

Nah sebelum keseharian kita terjebak dalam toxic productivity , alangkah baiknya kita mengenali ciri-ciri dari toxic productivity antara lain:
  1. Bekerja berlebihan hingga membahayakan kesehatan dan mengganggu hubungan sosial dengan orang lain. Ini ditandai dengan berbagai keluhan dari orang sekitar kita bahwa kita terlalu sibuk. Kita juga mulai merasakan sakit yang berhubungan dengan penundaan kebutuhan dasar seperti terkena maag akibat sering menunda makan.
  2. Ekspektasi yang tidak realistis terhadap diri sendiri. Seringkali, toxic productivity membuat kita tidak mampu untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada karena kita telah menetapkan sebuah standar yang tinggi untuk mencapai tujuan kita. Pada masa pandemi seperti sekarang ini, tentu saja hal tersebut dapat menjadi berbahaya. Bagi mahasiswa, ketidakmampuan untuk beradaptasi akan sistem perkuliahan yang baru akan memicu sebuah stressful condition dan dapat membahayakan status mental.
  3. Merasa kesulitan untuk beristirahat. Hal ini ditandai dengan munculnya rasa bersalah apabila beristirahat setelah seharian penuh bekerja atau berkegiatan. 
Terus gimana sih cara menghindari toxic productivity
  1. Buatlah tujuan atau goals yang realistis. Tujuan tersebut harus sefleksibel mungkin dengan keadaan.
  2. Beristirahat dari semua aktivitas adalah hal yang penting untuk dilakukan sesekali. Faktanya, dengan beristirahat dapat meningkatkan produktivitas dan membuat kita dapat bekerja secara efektif. Cobalah rencanakan beberapa aktivitas yang kamu senangi untuk mengisi weekend. Jangan terlalu memaksakan dirimu dan beristirahatlah sewajarnya!
  3. Terapkan praktik mindfulness. Mindfulness membuat diri kita terhubung dengan kejadian yang saat ini terjadi dan meningkatkan ketenangan serta fokus diri kita terhadap suatu hal. Mindfulness membuat kita menerima apa yang terjadi pada tubuh kita atau sekeliling kita, seperti kebutuhan untuk makan, ke kamar mandi, tidur, dan lain-lain. 
  4. Terapkan aturan atau “boundaries”, seperti belajar cukup 1-2 jam dalam sehari, tidak memainkan handphone di meja makan, dan lain-lain. Ingat ya, diri kalianlah yang paling mengenal diri sendiri. Jangan terlalu memaksakan diri! 

Keinginan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita dengan melakukan sesuatu yang produktif adalah hal yang wajar. Namun, setiap orang memiliki batasan. Jangan sampai apa yang kita harapkan berdampak baik, malah berefek sebaliknya bagi diri kita. Nggak ada yang salah dengan menjadi seseorang yang “produktif”, apalagi di masa pandemi seperti sekarang yang seakan menjadikan “produktif” adalah suatu keharusan. Tapi, tetaplah ingat untuk menjaga kesehatan fisik maupun jiwa kalian. Hidup bukanlah sebuah kompetisi, jadi untuk apa saling berlomba? What matters for you is your happiness and your health. 

1
0

Written by:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *